Tampilkan postingan dengan label Kuliah and Campus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah and Campus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

teknik mempersiapkan pidato

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepadaorang banyak. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orangyang mendengar pidato tersebut. Pada saat berpidato sudah dapat dipastikan bahwa akanterjadi hubungan antara yang berpidato dengan yang diberi pidato.
Oleh sebab itu , maka yang berpidato hendaknya mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya,agar tercapai apa yang diharapkannya. Peranan pidato dalam menyampaikan ide atau informasi secara lisan pada kelompok massa merupakan aktivitas yang sangat penting,baik masa lalu maupun masa yang akandatang. Seorang yang sudah mahir berbicara di depan umum akan dengan mudah menguasai massa dan menawarkan ide-idenya agar dapat diterima orang lain. Salahsatunya dengan menggunakan metode naskah.
Retorika adalah seni berkomunikasi secara lisan oleh seseorang kepada jumlah orang secara langsung bertatap muka, pada makalah ini akan membicarakan tahap apa saja mengenai persiapan pidato. Sehingga pidato yang kita bawakan memiliki daya tarik, informatif, rekratif dan persuasif.
2.      Rumusan Masalah
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan tentang teknik mempersiapkan pidato, antara lain :
1)      Apa yang dimaksud dengan pidato?
2)      Bagaimana cara mempersiapkan pidato?
3)      Bagaimana cara pembawaan atau pelaksanaan pidato?
4)      Bagaimana cara membuka dan menutup pidato?
5)      Etika yang harus dipelajari dalam berpidato?
6)      Apa tujuan dan jenis- jenis berpidato?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengetian Pidato
            Pidato merupakan salah satu bentuk kegiatan berbicara yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap ada acara, baik acara formal maupun informal selalu ada kegiatan berpidato, dari pidato sambutan sampai pada pidato penyampaian informasi ataupun pidato ilmiah. Keterampilan berpidato tidak begitu saja dapat dimiliki oleh seseorang, tetapi memerlukan latihan yang cukup serius dan dalam waktu yang cukup, kecuali bagi mereka yang memang memiliki bakat dan keahlian khusus.
            Menurut Hadinegoropidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak, atau wacana yang disiap­kan untuk  diucapkan  di depan khalayak, dengan maksud agar para pendengar dapat mengetahui, memahami, menerima serta diharapkan bersedia melaksana­kan segala sesuatu yang disampai­kan kepada mereka.[1]
B.     Persiapan Pidato
            Pidato merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan persiapan yang cukup. Persiapan pidato ini memiliki peran yang penting karena dengan persiapan yang dilakukan dengan baik, pidato yang akan dilakukan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Terkait dengan persiapan dan latihan dalam berpidato ini, mengemukakan tujuh langkah dalam mempersiapkan pidato, yaitu:[2]
1.      menentukan topik dan tujuan
2.      menganalisis pendengar dan situasi
3.      memilih dan menyempitkan topik
4.      mengumpulkan bahan
5.      membuat kerangka uraian
6.      menguraikan secara mendetail, dan
7.      melatih dengan suara nyaring.
Ketujuh langkah tersebut dapat diringkas menjadi tiga langkah yang tetap, yaitu: meneliti masalah (1, 2, dan 3), menyusun uraian (4, 5, dan 6), dan mengadakan latihan (7).
             Topik dapat dipilih sesuai dengan tujuan pidato yang akan disampaikan. Untuk mendapat topik yang baik dalam pidato, ada beberapa kriteria atau pedoman yang harus diperhatikan dalam memilihnya. Berikut ini dikemukakan beberapa kriteria yang dapat diacu dalam pemilihan topik tersebut.
1.      Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda
Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemung­kinan Anda lebih tahu daripada khalayak, Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan pendengar.
2.      Topik harus menarik minat Anda
Topik yang paling enak dibicarakan adalah topik yang paling Anda senangi dan menyentuh perasaan Anda. 
3.      Topik harus menarik minat pendengar
4.      Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar
5.      Topik harus terang ruang lingkup dan pembatasannya
6.      Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi
7.      Topik harus dapat ditunjang  dengan bahan yang lain.
Sementara itu, Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S mengungkap­kan bahwa dalam hal penentuan pokok atau topik pembicaraan yang akan disampaikan dalam pidato, perlu memperhatikan hal-hal berikut:[3]
1. Topik yang dipilih hendaknya serba sedikit sudah diketahui dan memungkinkan untuk melengkapinya
2. Persoalan yang disampaikan hendaknya menarik perhatian bagi pembicara sendiri
3. Persoalan yang disampaikan hendaknya juga menarik perhatian pendengar
4.  Tingkat kesulitan  persoalan yang akan dibahas hendaknya disesuai­kan dengan tingkat kemampuan pendengar
5. Persoalan yang disampaikan hendaknya dapat diselesaikan dalam waktu yang disediakan.
Dengan memilih topik yang sesuai dengan tujuan pidato yang akan disampaikan dan sesuai dengan kriteria atau pedoman yang telah ada, diikuti dengan latihan yang baik akan didapatkan pidato yan menarik dan sukses. Dalam mempersiapkan sebuah pidato agar dapat menjadi pidato yang menarik, latihan penyampaian secara efektif merupakan hal yang harus dilakukan.
C.    Pembawaan Pidato
Pelaksanaan atau pembawaan pidato memerlukan persiapan dan latihan yang cukup. Selain persiapan dan latihan yang cukup, masih banyak hal yang harus diperhatikan ketika seseorang menyampaikan pidatonya di depan audiens. Dalam hubungannya dengan persiapan, pelaksanaan, dan akhir wicara atau pidato, Widyamartaya mengemukakan tiga hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu: (1) pembawaan awal pembicaraan atau awal pidato, (2) selama berbicara, dan (3) pembawaan akhir wicara. [4]
1.      Pembawaan Awal Pembicaraan
a.       Tenangkan diri Anda sebelum maju ke depan. Bila Anda berdiri di depan orang banyak untuk berbicara, jangan terus berbicara, tapi tenangkan dulu diri Anda. Selama 10 sampai 15 detik berdirilah dengan tenang menya­dari diri, pandanglah para hadirin, dan ambillah nafas dalam-dalam.
b.      Setelah Anda menguasai diri dan mengadakan kontak dengan  pendengar Anda, ucapkan sapaan-sapaan dengan sepenuh hati dan simpatik.
c.       Awalilah pembicaraan Anda dengan menyinggung kesempatan/tempat yang diberikan pada Anda atau apa yang pernah disampaikan pembicara sebelumnya.
d.      Bangkitkan minat hadirin dengan mengutarakan suatu kejadian yang aktual, data statistik, suatu pertanyaan, alat peraga, menyinggung pentingnya suatu masalah, dan sebagainya.
2.      Selama Berbicara
a.       Menggunakan pause, jeda sementara untuk memberi kesempatan kepada pendengar guna mencerna penjelasan yang baru disampaikan, sekaligus sebagai persiapan untuk memasuki persoalan berikutnya.
b.      Pembicaraan diselingi dengan sapaan-sapaan yang bervariatif.
c.       Kata-kata atau frase yang penting ditekankan dengan intonasi khusus.
d.      Nada dan suara harus dapat bervariasi.
e.       Dukunglah pembicaraan dengan mimik, intonasi, dan solah bawa yang tepat.
f.       Pembicaraan diusahakan logis dan sistematis.
3.      Pembawaan Akhir Berbicara
a.       Perhitungkan kemampuan pendengar dan pembicara, jangan bernafsu bicara banyak dan jangan kita mengikuti perasaan kita sendiri.
b.       Bila gagasan yang akan disampaikan sudah memadai segera berhenti. Bicara yang berkepanjangan biasanya hasil dari pemikiran yang kurang lama atau masak.
c.       Bila pembicaraan cukup panjang, kemukakan ringkasan pokok persoalan yang disampaikan. Tekankan atau tandaskan sekali lagi maksud pokok pembicaraan Anda.
d.      Akhiri pembicaraan Anda dengan semangat yang menyala, tidak turun atau melemah.
e.       Hindarkan basa-basi yang tidak perlu, misalnya ucapan “Saya kira cukup sekian pembicaraan Saya”, ucapkan saja “Terima kasih atas perhatian Saudara.”
f.        Wajah dan gerak-gerik hendaklah selalu memancarkan suatu keperca­yaan diri. Hindarkan gerak-gerik yang kurang baik, seperti penyeringai­an, buru-buru, angkat bahu, dan sebagainya.

D.    Cara Membuka dan Menutup Pidato
1.       Cara Membuka Pidato
            Pembukaan dalam berpidato memiliki peranan yang cukup besar dalam kesuksesan berpidato. Kalau dalam pembukaan pidato sudah bagus, maka pendengar akan merasa tertarik untuk mengikuti uraian pidato selanjutnya. Jalaluddin Rachmat menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membuka dan menutup pidato[5]. Cara dan waktu yang dibutuhkan dalam membuka pidato menurutnya  sangat bergantung pada topik, tujuan, situasi, khalayak, dan hubungan antara komunikator dan komunikan. Adapun cara-cara membuka pidato tersebut dapat dipilih salah satu dari yang berikut:
1.      Langsung menyebutkan pokok persoalan. Komunikator menyebutkan hal-hal yang akan dibicarakannya dan memberikan kerangka pembicara­annya. Cara ini biasanya dilakukan bila topik adalah pusat perhatian khalayak.
2.      Melukiskan latar belakang masalah.
      Komunikator menjelaskan sejarah topik, membatasi perngertian, dan menyatakan masalah-masalah utamanya.
3.      Menghubungkan dengan peristiwa mutakhir atau kejadian yang tengah menjadi pusat perhatian khalayak.
4.      Menghubungkan dengan peristiwa yang  sedang diperingati.
5.      Menghubungkan dengan tempat komunikator berpidato.
6.      Menghubungkan dengan suasana emosi (mood) yang tengah meliputi khalayak.
7.      Menghubungkan dengan kejadian sejarah yang terjadi di masa lalu
8.      Menguhubungkan dengan keperluan vital pendengar
9.      Memberikan pujian pada khalayak atas prestasi mereka
10.  Memulai dengan pernyataan yang mengejutkan
11.  Mengajukan pertanyaan provokatif atau serentetan pertanyaan
12.  Menyatakan kutipan
13.  Menceritakan pengalaman pribadi
14.  Mengisahkan cerita faktual, fiktif atau situasi hipotetis
15.  Menyatakan teori atau prinsip-prinsip yang diakui kebenarannya
16.  Membuat humor.

2.      Cara Menutup Pidato

            Selain pembukaan pidato, masalah penutupan pidato juga menjadi masalah yang penting. Penutup pidato paling tidak harus dapat menjelaskan seluruh tujuan komposisi, memperkuat daya persuasi, mendorong pemikiran dan tindakan yang diharapkan, menciptakan klimaks dan menimbulkan kesan terakhir yang positif. Dalam sebuah pidato, dikenal dua macam cara menutup pidato yang buruk, yaitu: berhenti tiba-tiba tanpa memberikan gambaran komposisi yang sempurna dan  berlarut-larut tanpa pengetahuan di mana harus berhenti.
            Berikut ini beberapa cara menutup pidato sebagaimana yang diungkapkan oleh Rachmat (1999: 60-63):
1.      Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar pembicaraan.
Cara yang paling mudah dalam menyimpulkan ini adalah dengan membilangnya dalam urutan satu, dua, tiga, dan seterusnya.
2.      Menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat dan kata yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan setelah menyebutkan ikhtisar pidato atau tanpa ikhtisar pidato.
3.      Mendorong khalayak untuk bertindak (Appeal for Action).
Cara ini biasanya dipakai terutama untuk menutup pidato persuasif yang ditujukan untuk memperoleh tindakan tertentu dari khalayak.
4.      Mengakhiri dengan klimaks.
Karena akhir pidato merupakan puncak seluruh uraian, maka menuju penutup pidato dapat dilakukan dengan uraian menjadi lebih penting dan lebih patut mendapat perhatian.
5.      Mengatakan kutipan sajak, kitab suci, peribahasa, atau ucapan ahli.
Kutipan dapat menambah keindahan komposisi, asal kutipan yang dipakai tersebut ada kaitannya dengan tema yang dibicarakan atau menunjukkan  arah tindakan yang harus dilakukan.
6.      Menceritakan contoh yang berupa ilustrasi dari tema pembicaraan.
Ilustrasi ini harus berbentuk cerita yang menarik perhatian yang menghidupkan jalannya uraian. Panjang pendeknya cerita dapat disesuaikan dengan waktu yang tersedia.
7.      Menerangkan maksud sebenarnya pribadi pembicara.
8.      Memuji dan menghargai khalayak.
Pujian yang efektif adalah pujian yang wajar, ikhlas, dan tidak berlebih-lebihan.
9.      Membuat pernyataan yang humoris atau anekdot lucu.
Kalau bukan ahli, cara menutup pidato inilah yang paling sukar dilakukan.
              Sebaiknya penutup pidato diucapkan secara bebas, jangan membaca pada teks, karena akan membawa efek yang kurang meyakin­kan. Pembicara harus mengucapkan secara bebas, dan diucapkan dengan kontak mata yang sugestif terhadap pendengar.
E.     Etika dalam berpidato
Dalam menyampaikan pidato harus menjaga etika – etika , diantaranya :
1.      Mengenakan pakaian yang sesuai dengan suasana pertemuan, rapi, bersih dan sopan
2.      Tampil dengan bersahaja, sopan dan rendah hati
3.      Menyisipkan beberapahumor segar dalam pidato
4.      Gunakan kata-kata yang sopan, halus dan sederhana
5.      Sebagai kata penutup jangan lupa mengucapkan maaf bila terdapat tutur kata yang kurang berkenan dan lain-lain.
E.     Tujuan Pidato
Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1.      Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan sukarela.
2.      Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3.      Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.
4.      Edukatif, yaitu berupaya untuk menekankan pada aspek-aspek pendidikan

F.        Jenis-jenis Pidato

            Berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam pidato, Rachmat (1999: 17-18) membagi jenis pidato menjadi empat macam, yaitu pidato impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore. Tokoh lain menyebut empat bentuk ini bukan sebagai jenis pidato, tetapi merupakan metode pidato.

1.      Pidato Impromtu
            Pidato impromptu adalah pidato yang disampaikan tanpa adanya persiapan dari orang yang akan berpidato. Misalnya, ketika Anda datang ke suatu pesta, kemudian Anda diminta untuk menyampaikan pidato, maka pidato yang Anda sampaikan tanpa adanya persiapan terlebih dahulu tersebut dinamakan pidato impromtu. Bagi mereka yang sudah terbiasa berpidato, pidato impromtu ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah (1) impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya, (2) gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan (3) impromtu memungkinkan Anda terus berpikir.   
            Namun demikian, impromtu ini memiliki beberapa kelemahan, terutama bagi pembicara atau orang yang belum terbiasa berpidato. Kelemahan-kelemahan impromtu tersebut antara lain adalah (1) impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah karena dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan bias “acak-acakan” dan ngawur, (4) karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali.
            Menurut Jalaludin Rachmat (1999: 17) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijadikan pegangan ketika pidato impromtu harus dilakukan. Hal-hal tersebut antara lain adalah:
1.      Pikirkan lebih dahulu teknik permulaan pidato yang baik. Misalnya: Cerita, hubungan dengan pidato sebelumnya, bandingan, ilustrasi, dan sebagainya.
2.      Tentukan sistem organisasi pesan. Misalnya: susunan kronologis, teknik pemecahan masalah, kerangka sosial ekonomi-politik, hubungan teori dan praktik.
3.      Pikirkan teknik menutup pidato yang mengesankan. Kesukaran menutup pidato biasanya merepotkan pembicara impromtu.

2.      Pidato Manuskrip
            Pidato jenis manuskrip ini juga sering disebut pidato dengan naskah. Orang yang berpidato mmembacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Pidato jenis manuskrip ini diperlukan oleh tokoh nasional dan para ilmuwan dalam melaporkan hasil penelitian yang dilakukannya. Mereka harus berbicara atau berpidato dengan hati-hati, karena kesalahan pemakaian kata atau kalimat akibatnya bisa lebih luas dan berakibat negatif. 
Keuntungan pidato manuskrip antara lain adalah (1) kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2) pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan bicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah disiapkan, (4) hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari, (5) manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
            Akan tetapi kalau dilihat dari proses komunikasi, kerugian pidato manuskrip ini akan lebih berat , di antaranya adalah (1) komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka, (2) pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku, (3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan, (4) pembuatannya lebih lama daripada sekedar menyiapkan garis-garis besarnya saja.
            Agar dapat menghindari berbagai kelemahan dari pidato manuskrip ini, maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:
1.      Susunlah lebih dahulu garis-garis besarnya dan siapkan bahan-bahannya.
2.      Tulislah manuskrip seolah-olah Anda berbicara. Gunakan gaya percakapan yang lebih informal dan langsung.
3.      Baca naskah itu berkali-kali sambil membayangkan pendengar.
4.      Siapkan manuskrip dengan ketikan besar, tiga spasi dan batas pinggir yang luas.

3.      Pidato Memoriter
            Pidato jenis ini juga sering disebut sebagai pidato hafalan.  Pembicara atau orang yang akan berpidato menulis semua pesan yang akan disampaikan dalam sebuah naskah kemudian dihafalkan dan disampaikan kepada audiens kata-demi kata secara hafalan. Pidato memoriter ini sering menjadi tidak dapat berjalan dengan baik apabila pembicara lupa bagian yang akan disampaikan, dan dalam pidato ini hubungan antara pembicara dengan audiens juga kurang baik.
            Kekurangan pidato jenis ini antara lain adalah: tidak terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar, kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan, kurang spontan, perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingat-ingat.
4.      Pidato Ekstemporer
            Pidato ekstemporer ini adalah jenis pidato yang paling baik dan paling banyak digunakan oleh juru pidato yang telah mahir. Dalam pidato jenis ini, pembicara hanya menyiapkan garis besar (out-line) saja. Dalam penyampaiannya, pembicara tidak mengingat kata demi kata tetapi pembicara bebas menyampaikan ide-idenya dengan rambu-rambu garis besar permasalahan yang telah disusun. Komunikasi yang terjadi antara pembicara dengan audiensnya dapat berlangsung dengan lebih baik. Pembicara dapat secara langsung merespons apa yang terjadi di hadapannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.
            Bagi pembicara yang belum mahir berpidato, pidato jenis ekstempore ini memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut di antaranya adalah: persiapan kurang baik bila dibuat terburu-buru, pemilihan bahasa yang jelek, kefasihan yang terhambat karena kekurangan memilih kata dengan segera, kemungkinan menyimpang dari garis besar pidato (out-line), tentu saja tidak dapat dijadikan bahan penerbitan.  Akan tetapi, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi dengan banyak melakukan latihan berpidato..



BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan dalam teknik mempersiapkan pidato yang dapat kita perhatikan atau kita tinjau dari jenis-jenis pidato, jenis pidato ada empat, pertama impromtu, kedua manuskrip, ketiga memoriter dan keempat ekstempore. Dengan mengetahui jenis-jenis ini tentu mempermudah kita dalam berpidato
Berikut memilih topik dan tujuan pidato. dalam pemilihan topik banyak sekali yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. seperti pengetahuan, pendidikan, situasi, dan lainnya. tujuan tidak lain dan tidak bukan agar pidato kita terarah, tepat sasaran dan bermanfaat tentunya
Pidato yang baik dan efesien dapat  memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.



DAFTAR PUSTAKA
Arsjad, Maidar G. dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Hadinegoro, Luqman. 2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Absolut.
Rakhmat, Jalaluddin. 1999. Retorika Modern Pendekatan Praktis, Cetakan ke-5. Bandung: Remaja Rosda Karya.









[1] Luqman  Hadinegoro. 2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Absolut hal: 1
[2] Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah  hal: 317
[3] Maidar G Arsjad. dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta hal: 57
[4] Widyamartaya, A. 1980. Kreatif Berwicara. Yogyakarta: Kanisius hal: 32-35
[5] Jalaluddin Rakhmat. 1999. Retorika Modern Pendekatan Praktis, Cetakan ke-5. Bandung: Remaja Rosda Karya hal 52-63

Selasa, 05 November 2013

Sebab- Sebab Dakwah

BAB II
PENDAHULUAN
I.         Latar Belakang
Dakwah merupakan realisasi melaksanakan perintah Allah SWT dan dalam al-qur’an guna melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu islam mengajarkan bentuk dakwah baik dalam bil hal, dakwah bil lisan, dan dakwah bil khitab. Ketiga dakwah bentuk tersebut semakin hari semakin berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat.

       I.            Rumusan masalah
Di bawah ini merupakan masalah mengenai sebab-sebab dakwah, antara lain:
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Dakwah

Untuk menjelaskan skop pembahasan dalam makalah ini, maka terlebih dahulu diterangkan definisi dakwah dan multimedia. Secara bebas dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti seruan, ajakan atau panggilan juga undangan. [1]
Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Ilmu Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.
Secara etimologis dakwah bermakna ajakan, sedangkan dalam terminologi artinya adalah menggunakan akal pikiran dalam rangka menyelematkan manusia dari rasa jauh dan lupa terhadap Allah Swt agar menjadi dekat dan ingat, dengan berbagai sarana dan metode
B.     Sebab-sebab Dakwah
Sebab-sebab dakwah adalah karena Allah Swt, telah memerintahkan kepada manusia dan Jin untuk menyembah hanya kepada Allah Swt tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.Sebagaimana firman Allah dibawah ini:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dengan demikian tugas dan kewajiban ini berlaku juga bagi setiap manusia yang sudah mengikrarkan diri dalam syahadatnya. Paling tidak dapat dikemukakan enam tugas dan kewajiban tersebut:
1.      Memberikan bimbingan kepada akal manusia untuk mengenal Allah dalam segala aspek dengan manhaj yang telah ditentukan oleh Allah Swt
2.      Memberitahukan kepada ummat manusia kabar-kabar ghaib yang perlu diketahui manusia. Hal ini dilakukan guna mendatangkan ketenangan dan hati yang jernih, sehingga dalam beribadah manusia mendapatkan nikmatnya.
3.      Menerangkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan apa yang diharamkan-Nya bagi manusia.
4.      Memberikan pengarahan kepada manusia dan menganjurkan kepada mereka agar hidup didunia ini mengedepankan persaudaraan dan saling mencintai dengan tetap menjadikannya sebagai ibadah demi kemajuan Islam.
5.      Memperhalus jiwa dan mendidik jiwa mereka dengan cara mengarahkan jiwa dan akhlak pada nilai-nilai yang mulia.
6.      Menerangkan apa yang menjadi pertentangan umat manusia, konflik-konflik yang terjadi akibat syahwat manusia.
Selain enam tugas dan kewajiban diatas, maka dapat disebutkan disini bahwa sebab-sebab dakwah adalah karena manusia menginginkan kehidupan yang bahagia, yang tidak hanya mengandalkan akal dalam mencapainya melainkan juga dibutuhkan wahyu dan bimbingan

C.    Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Dakwah
Adapun yang dimaksud kegagalan dakwah adalah belum tercapainya tujuan dakwah, yang mengajak manusia untuk melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar dan  totalitas mengabdi (beribadah) kepada Allah dan Rasul-Nya guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sebagai manusia yang punya kewajiban berdakwah tidak saja harus instropeksi (muhasabah) diri, tetapi juga perlu waspada dalam setiap kali melakukan aktifitas dakwahnya. Hal ini penting karena bahaya yang menghadang mereka (juru dakwah) tidak dapat dianggap ringan.
Bahaya itu itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga bersumber dari dalam. Ukuran bahaya pun sangat relatif. Tidak bisa dikatakan bahwa bahaya dari luar lebih berat dibanding bahaya dari dalam. Begitu pun sebaliknya. Yang nyata, dari  banyak pengalaman, tidak jarang para aktivis muslim termasuk juga da’i, mubaligh dan ulama justru terjerumus karena penyakit yang bersumber dari dalam dirinya, bukan dari luar.
Dalam bukunya “Penyebab Gagalnya Dakwah” Dr. Sayyid Muhammad Nuh Menyingkap berbagai macam kerikil dan bahaya yang menghadang dalam aktivitas (berdakwah) menegakan agama Allah, baik itu dari internal seorang da’i atau pun eksternal (lingkungan sekitar), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Internal Da’i
a.       Futuur
Dalam bahasa Arab, kata futuur antara lain dapat bermakna terputus setelah terus menerus, atau diam setelah bergerak; atau sikap malas, lamban dan santai setelah sebelumnya giat dan bersungguh-sungguh. Dalam kitab Lisanul-Arab (Ibnu Manzuur 5/43), kata fatara mengandung pengertian :’sikap berdiam diri setelah sebelumnya bergiat’ atau ‘melemah setelah sebelumnya kuat’. Sedangkan dari sudut istilah, futuur ialah suatu penyakit hati (rohani) yang efek minimalnya timbulnya rasa malas, lamban dan sikap santai dalam melakukan suatu amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya adalah terputusnya sama sekali praktik dari suatu amaliyah tersebut

Ayat Al-Qur’an yang menunjukkan arti futuur antara lain Q.S. Al-Anbiya’ [21]:19-20 :
¼ã&s!ur `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 ô`tBur ¼çnyZÏã Ÿw tbrçŽÉ9õ3tGó¡o ô`tã ¾ÏmÏ?yŠ$t7Ïã Ÿwur tbrçŽÅ£óstGó¡tƒ ÇÊÒÈ   tbqßsÎm7|¡ç Ÿ@ø©9$# u$pk¨]9$#ur Ÿw tbrçŽäIøÿtƒ ÇËÉÈ    ( ٲﻷﻨﺑﯿﺎﺀ :  ٢۰ - ۱۹)
Artinya : “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” 
Adapun faktor-faktor penyebab Futuur di antaranya, tubuhnya termasuki sesuatu yang haram atau yang bernilai syubhat, mengabaikan kebutuhan jasmani, tidak siap menghadapi kendala dakwah dan berlarut-larut dalam melakukan maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil.
Sedangkan dampak akibat Futuur adalah :
1)      Terhadap Pribadi Aktivis (Juru Dakwah)
Kita harus senantiasa menjaga ketaatan diri kepada-Nya kapan saja dan dimana saja, sebab kita tidak pernah diberi tahu kapan kita akan menghadap ke haribaan-Nya. Sungguh akan merupakan kerugian besar andaikan kita tengah dilanda futuur , tiba-tiba kita harus menghadap kepada-Nya, karena kita akan dinilai sebagai manusia yang menyia-nyiakan dan lalai terhadap ajaran-ajaran-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa memanjatkan do’a seperti ini :
أللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ، وأعوذبك من العجزوالكسل ، وأعوذبك من الجبن والبخل ، وأعوذ بك من غلبة الدين وقهرالرجا ل 
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap ragu-ragu untuk bertindak dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis putus asa) dan malas). Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan (tindak semena-mena) orang-orang kepadaku.” (H.R. Abu Daud).

2)      Terhadap Amal Islami
Terhadap amal Islami, penyakit futuur akan mengakibatkan bertambah panjangnya jalan dakwah serta akan mengakibatkan bertumpuknya beban serta pengorbanan, sebab Allah tidak akan memberi pertolongan dan pengukuhan pada mereka yang malas, lalai dan yang meninggalkan amal. Sebaliknya, Dia (Allah) hanya akan memberikan pertolongan kepada orang yang aktif, yang berjihad, yang teliti dalam beramal, dan membaguskan jihad. Sebagaimana Firman-Nya :
¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# $¯RÎ) Ÿw ßìÅÒçR tô_r& ô`tB z`|¡ômr& ¸xyJtã ÇÌÉÈ  
( ﺍﻠﻜﻬﻑ : ٣٠ )

Artinya : “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”
¨bÎ) ©!$# yìtB tûïÏ%©!$# (#qs)¨?$# tûïÏ%©!$#¨r Nèd šcqãZÅ¡øtC ÇÊËÑÈ   ( ﺍﻠﻨﺤﻞ : ۱٢۸ )
Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”  
z`ƒÏ%©!$#ur (#rßyg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏöks]s9 $uZn=ç7ß 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ                    ( ﺍﻠﻌﻨﻜﺒﻭﺖ : ٦٩ )
Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. "
b.  Israff
Dari sudut bahasa, Israff antara lain dapat bermakna : melakukan sesuatu tetapi tidak dalam rangka ketaatan dan bisa juga boros dan melampaui batas. Banyak faktor yang menyebabkan Israff, di antaranya adalah : latar belakang keluarga, keleluasaan rezeki yang diperoleh setelah kesempitan, berteman dengan pemboros, lalai terhadap bekal perjalanan, pengaruh istri dan anak, dan kurang mampu mengendalikan aneka tuntutan jiwa.
Sikap berlebih-lebihan dalam beragama adalah suatu penyakit yang membahayakan. Sikap ini dapat mendatangkan akibat-akibat buruk pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, bagi individu, umat dan masyarakat. Juga dalam hal akidah, pemikiran, hukum, syari’at serta perilaku dan tindakan Sesungguhnya sikap berlebih-lebihan dalam agama, dengan segala bentuk dan macamnya, adalah penyakit yang menjijikan dan kronis yang mengantarkan pelakunya dan orang yang komitmen terhadapnya, kepada kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat.
Adapun di antara bahaya-bahayanya, terhadap pribadi aktivis adalah hati menjadi keras, kebekuan berfikir, condong kepada kejahatan dan dosa, tidak mampu menghadapi ujian dan kesulitan dan lenyapnya sifat sosial dan rasa solidaritas. Sedangkan terhadap amal islami, Adapun pengaruh-pengaruh yang menimpa amal Islami antara lain akan menjadi kalah, atau paling tidak surut ke belakang. 
c.  Isti’jaal
Dari segi bahasa, kata Isti’jaal, I’jaal, ta’ajjul, semuanya mengandung pengertian sama, yaitu keinginan untuk menyegerakan atau mempercepat apa-apa yang dihajatkan atau orang yang menginginkan agar permintaannya terlaksana dengan cepat atau memerintahkan orang lain untuk bersegera dalam suatu masalah. Mengenai hal ini Allah swt sudah menjelaskan dalam firman-Nya :
 öqs9ur ã@Édfyèムª!$# Ĩ$¨Y=Ï9 §¤±9$# Oßgs9$yf÷èÏGó$# ÎŽöyø9$$Î/ zÓÅÓà)s9 öNÍköŽs9Î) öNßgè=y_r& ( âxoYsù z`ƒÏ%©!$# Ÿw šcqã_ötƒ $tRuä!$s)Ï9 Îû öNÍkÈ]»uŠøóèÛ šcqßgyJ÷ètƒ ÇÊÊÈ ( ﯿﻭﻨﺲ : ۱۱ ) 
Artinya : “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.”    

Sedangkan dari segi istilah, yang dimaksud Isti’jaal yakni keinginan untuk mewujudkan perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhitungkan akibat dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan, sistem dan sarana (Sayyid M Nuh, 2000:65). Sikap tergesa-gesa dan terburu-buru merupakan salah satu tabiat yang dimiliki oleh manusia seperti yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya :
……( tb%x.ur ß`»|¡RM}$# Zwqàftã ÇÊÊÈ          ( ﺍﻹﺴﺮﺍﺀ : ۱۱ )
... dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”
t,Î=äz ß`»|¡RM}$# ô`ÏB 9@yftã 4 …….. ÇÌÐÈ   ( ٲﻷﻨﺑﯿﺎﺀ : ٣٧ )
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.”
Kadangkala semangat yang berapi-api dari para penyampai dakwah serta keinginan yang mendesak untuk segera menyebarkan dakwah dan melihat kemenangannya, mendorong para penyampai dakwah untuk menarik sebagaian individu dan beberapa unsur penting masyarakat dengan cara mengacuhkan pada awal-awal langkah beberapa permasalahan dakwah yang mereka anggap bukan merupakan dasar dan pokok dari dakwah. Kemudian mereka berkompromi dengan manusia dalam beberapa urusan agar mereka tidak lari dari dakwah dan memusuhinya. Hal itu mendorong mereka juga untuk menggunakan sarana dan metode-metode yang tidak sesuai dengan standar-standar dakwah yang detail dan tidak pula dengan manhaj dakwah yang lurus. Mereka melakukan hal itu karena didorong oleh keinginan segera melihat kemenangan dakwah dan penyebarannya.
2.      Eksternal Da’i (lingkungan sekitar)
Yusuf al-Qaradhawi menulis dalam bukunya Aina al-Khalal bahwa kelemahan umat ini setidaknya disebabkan oleh tiga faktor penting yaitu pertama, melemahnya kesadaran umat ini untuk menjalankan syari’at agamanya. Kedua, umat ini sedang mengalami krisis identitas yang sangat akut. Ketiga, umat ini sedang berada dipersimpangan jalan bahkan lebih ekstrim lagi bahwa umat ini sudah kehilangan arah dan tujuannya.
Padahal Allah swt telah  telah mensifati umat (Islam) ini sebagai khairu ummah (ummat yang terbaik). Akan tetapi al-amru bil ma’ruf  dan an nahyu ’anil munkar sebagai prasyarat utama identitas tersebut sudah sejak lama ditinggalkan. Bahkan yang lebih menyayat lagi, kemungkaran seolah-olah menjadi konsumsi harian dan dianggap sebuah trend sedangkan bertingkah laku secara Islami akan dipandang remeh bahkan terkadang sering dipermasalahkan.
Allah swt., juga telah mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa umat ini ’ala qalbi rajul wahid, umat yang seharusnya satu visi dan misi Inna hadzihi ummatukum ummatan waahidah. Namun pada hari ini, umat yang besar itu terpecah-pecah dan selalu berselisih antar sesama saudaranya (muslim), sehingga perpecahan umat ini dimanfaatkan oleh kaum salibis dan zionois untuk menghancurkan potensi dan kekuatan umat ini.
Inilah yang menjadi penyebab kegagalan dakwah Islam di lingkungan sekitar para juru dakwah, baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan dakwah sekalipun telah terjadi dikotomi (pengkotak-kotakan) sehingga dakwah ini terkesan parsial.



D.    Akibat Kegagalan Dakwah
Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan pada kendala pertama. Sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.
"Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus sekalipun sedikit". (HR : Muttafaq alaih). Menyebabkan Pengorbanan Yang Sia-Sia.
Perilaku tergesa-gesa atau melakukan sesuatu aktivitas dengan tanpa perhitungan lazimnya sangat sulit mencapai keberhasilan, faedah, atau keuntungan. Kasus berikut ini merupakan sebuah contoh konkrit sekaligus ibrah (pelajaran) bagi kita semua atas fenomena isti'jaal.
Pada akhirnya tahun tiga puluhan, kehidupan hakah Islamiyah di Mesir sempat mencapai puncak masa kejayaannya. Ia telah dapat menembus ke segenap lapisan masyarakat. Ibarat sebuah kapal laut yang membelah lauatan yang tenang disertai semilir tiupan angin yang mengiringinya. Suara harakah telah menggema dan terdengar di setiap permasalahan, baik yang sifatnya nasional maupun internasional. Pada waktu itu ada seorang anggota harakah, yaitu Ahmad Rif'at, yang menolak sistem dan cara yang tengah ditempuh oleh harakah Islamiyah dan menyerukan sistem lainnya.
Awalnya, keadaan itu belum sempat menjadi perhatian. Setiap anggota harakah berhak mengkritik hal-hal yang dipandang perlu, maka terjadilah diskusi beberapa kelompok harakah yang kemudian menghasilkan kesimpulan yang paling benar dan jalan yanglebih lurus. Meskipun demikian, yang patut menjadi titik perhatian kita bahwa seruan tersebut mendapat sambutan positif dari para pemuda anggaota harakah Islamiyah. Kita tidak ingin membicarakan sebab-sebab yang melahirkan keadaan tersebut. Yang penting bagi kita adalah diadakannya pertemuan khusus untuk mengetahui kendala dan tuntutan yang tengah berkembang, yang meliputi tiga hal :
Pertama, pihak harakah Islamiyah dianggap telah "bemanis-manis" dengan pemerintah dan berjalan bersamanya, kendati jelas-jelas sistem politik yang dijalankan oleh pemerintah merupakan sistem politik "campuran" (sekuler). Kondisi itu harus diluruskan. Pihak harakah Islamiyah wajiba bersikap tegas dan kritis dalam menghadapi pemerintah secara benar sesuai dengan konteks al-Qur'an. "Dan barangsiap yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir".
Kedua, pihak harakah Islamiyah dianggap belum mampu menindak para wanita yang melakukan tabarruj (membuka aurat). Pihak harakah hanya dapat dapat memberikan nasihat, petuah, serta himbauan-himbauan lewat kata-kata. Diusulkan agar pihak harakah bisa mengirimkan para anggotanya ke jalan-jalan Kairo dengan membawa tinta. Setiap kali mereka mendapatkan seorang wanita yang membuka auratnya di hadapannya, mereka harus melemparkan tinta itu ke baju-baju mereka. Sebagai pelajaran bagi wanita itu.
Ketiga, sikap pihak harakah Islamiyah terhadap para mujahidin Palestina, dianggap hanya sebatas "pengakuan". Sikap semacam itu dipandang sebagai tindakan menyepelekan dalam mengatasi kemelut, enggan berjihad, dan menghindari dari medan perang. Seharusnya harakah Islamiyah segera meninggakan pekerjaan mereka masing-masing kemudian bergabung dengan barisan mujahidin di Palestina.
Jika hal-hal itu tidak dilakukannya, maka mereka termasuk orang-orang yang membelot dari gerakan, dan tidak berguna kerterlibatan mereka dalam harakah Islamiyah.



BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari rangkaian pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab-bab dapat diringkas dan sekaligus disimpulkan bahwa Sebab-sebab dakwah semeta-mata karna Allah SWT.Dalam melakukan aktivitas apapun sudah menjadi Sunnatullah pasti akan menemukan yang namanya keberhasilan atau kegagalan. Begitu pun dengan dakwah Islamiyah yang kita lakukan.  para pembawa misi dakwah tidak boleh mengukur keberhasilan dakwah dari segi buah-buah ini saja. Kewajiban mereka hanyalah bertolak dalam perahu dakwah di atas manhajnya yang jelas, murni dan detail (Sayyid Quthb, 2004:211). Kemudian menyerahkan kepada Allah untuk menilai hasil dan buahnya dari sikap istiqomahnya dalam dakwah itu.










Daftar Pustaka
Hadi, sofyan.  2011. Ilmu Dakwah dari Konsep Paradigma dan Metodologi. Css Pesona Surya Milenia
Aliyudin. Dasar-dasar Ilmu dakwah. 2007. Bandung: fakultas dakwah UINSGD Bandung
http://qolbi.wordpress.com/fiqh-dakwah/sebab-sebab-dakwah/ diakses pukul 0:39 wib pada tanggal 29 Oktober 2013



[1] Sofyan Hadi. 2011. Ilmu Dakwah.hal 6