Selasa, 05 November 2013

Sebab- Sebab Dakwah

BAB II
PENDAHULUAN
I.         Latar Belakang
Dakwah merupakan realisasi melaksanakan perintah Allah SWT dan dalam al-qur’an guna melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu islam mengajarkan bentuk dakwah baik dalam bil hal, dakwah bil lisan, dan dakwah bil khitab. Ketiga dakwah bentuk tersebut semakin hari semakin berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat.

       I.            Rumusan masalah
Di bawah ini merupakan masalah mengenai sebab-sebab dakwah, antara lain:
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Dakwah

Untuk menjelaskan skop pembahasan dalam makalah ini, maka terlebih dahulu diterangkan definisi dakwah dan multimedia. Secara bebas dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti seruan, ajakan atau panggilan juga undangan. [1]
Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Ilmu Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.
Secara etimologis dakwah bermakna ajakan, sedangkan dalam terminologi artinya adalah menggunakan akal pikiran dalam rangka menyelematkan manusia dari rasa jauh dan lupa terhadap Allah Swt agar menjadi dekat dan ingat, dengan berbagai sarana dan metode
B.     Sebab-sebab Dakwah
Sebab-sebab dakwah adalah karena Allah Swt, telah memerintahkan kepada manusia dan Jin untuk menyembah hanya kepada Allah Swt tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.Sebagaimana firman Allah dibawah ini:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dengan demikian tugas dan kewajiban ini berlaku juga bagi setiap manusia yang sudah mengikrarkan diri dalam syahadatnya. Paling tidak dapat dikemukakan enam tugas dan kewajiban tersebut:
1.      Memberikan bimbingan kepada akal manusia untuk mengenal Allah dalam segala aspek dengan manhaj yang telah ditentukan oleh Allah Swt
2.      Memberitahukan kepada ummat manusia kabar-kabar ghaib yang perlu diketahui manusia. Hal ini dilakukan guna mendatangkan ketenangan dan hati yang jernih, sehingga dalam beribadah manusia mendapatkan nikmatnya.
3.      Menerangkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan apa yang diharamkan-Nya bagi manusia.
4.      Memberikan pengarahan kepada manusia dan menganjurkan kepada mereka agar hidup didunia ini mengedepankan persaudaraan dan saling mencintai dengan tetap menjadikannya sebagai ibadah demi kemajuan Islam.
5.      Memperhalus jiwa dan mendidik jiwa mereka dengan cara mengarahkan jiwa dan akhlak pada nilai-nilai yang mulia.
6.      Menerangkan apa yang menjadi pertentangan umat manusia, konflik-konflik yang terjadi akibat syahwat manusia.
Selain enam tugas dan kewajiban diatas, maka dapat disebutkan disini bahwa sebab-sebab dakwah adalah karena manusia menginginkan kehidupan yang bahagia, yang tidak hanya mengandalkan akal dalam mencapainya melainkan juga dibutuhkan wahyu dan bimbingan

C.    Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Dakwah
Adapun yang dimaksud kegagalan dakwah adalah belum tercapainya tujuan dakwah, yang mengajak manusia untuk melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar dan  totalitas mengabdi (beribadah) kepada Allah dan Rasul-Nya guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sebagai manusia yang punya kewajiban berdakwah tidak saja harus instropeksi (muhasabah) diri, tetapi juga perlu waspada dalam setiap kali melakukan aktifitas dakwahnya. Hal ini penting karena bahaya yang menghadang mereka (juru dakwah) tidak dapat dianggap ringan.
Bahaya itu itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga bersumber dari dalam. Ukuran bahaya pun sangat relatif. Tidak bisa dikatakan bahwa bahaya dari luar lebih berat dibanding bahaya dari dalam. Begitu pun sebaliknya. Yang nyata, dari  banyak pengalaman, tidak jarang para aktivis muslim termasuk juga da’i, mubaligh dan ulama justru terjerumus karena penyakit yang bersumber dari dalam dirinya, bukan dari luar.
Dalam bukunya “Penyebab Gagalnya Dakwah” Dr. Sayyid Muhammad Nuh Menyingkap berbagai macam kerikil dan bahaya yang menghadang dalam aktivitas (berdakwah) menegakan agama Allah, baik itu dari internal seorang da’i atau pun eksternal (lingkungan sekitar), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Internal Da’i
a.       Futuur
Dalam bahasa Arab, kata futuur antara lain dapat bermakna terputus setelah terus menerus, atau diam setelah bergerak; atau sikap malas, lamban dan santai setelah sebelumnya giat dan bersungguh-sungguh. Dalam kitab Lisanul-Arab (Ibnu Manzuur 5/43), kata fatara mengandung pengertian :’sikap berdiam diri setelah sebelumnya bergiat’ atau ‘melemah setelah sebelumnya kuat’. Sedangkan dari sudut istilah, futuur ialah suatu penyakit hati (rohani) yang efek minimalnya timbulnya rasa malas, lamban dan sikap santai dalam melakukan suatu amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya adalah terputusnya sama sekali praktik dari suatu amaliyah tersebut

Ayat Al-Qur’an yang menunjukkan arti futuur antara lain Q.S. Al-Anbiya’ [21]:19-20 :
¼ã&s!ur `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 ô`tBur ¼çnyZÏã Ÿw tbrçŽÉ9õ3tGó¡o ô`tã ¾ÏmÏ?yŠ$t7Ïã Ÿwur tbrçŽÅ£óstGó¡tƒ ÇÊÒÈ   tbqßsÎm7|¡ç Ÿ@ø©9$# u$pk¨]9$#ur Ÿw tbrçŽäIøÿtƒ ÇËÉÈ    ( ٲﻷﻨﺑﯿﺎﺀ :  ٢۰ - ۱۹)
Artinya : “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” 
Adapun faktor-faktor penyebab Futuur di antaranya, tubuhnya termasuki sesuatu yang haram atau yang bernilai syubhat, mengabaikan kebutuhan jasmani, tidak siap menghadapi kendala dakwah dan berlarut-larut dalam melakukan maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil.
Sedangkan dampak akibat Futuur adalah :
1)      Terhadap Pribadi Aktivis (Juru Dakwah)
Kita harus senantiasa menjaga ketaatan diri kepada-Nya kapan saja dan dimana saja, sebab kita tidak pernah diberi tahu kapan kita akan menghadap ke haribaan-Nya. Sungguh akan merupakan kerugian besar andaikan kita tengah dilanda futuur , tiba-tiba kita harus menghadap kepada-Nya, karena kita akan dinilai sebagai manusia yang menyia-nyiakan dan lalai terhadap ajaran-ajaran-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa memanjatkan do’a seperti ini :
أللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ، وأعوذبك من العجزوالكسل ، وأعوذبك من الجبن والبخل ، وأعوذ بك من غلبة الدين وقهرالرجا ل 
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap ragu-ragu untuk bertindak dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis putus asa) dan malas). Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan (tindak semena-mena) orang-orang kepadaku.” (H.R. Abu Daud).

2)      Terhadap Amal Islami
Terhadap amal Islami, penyakit futuur akan mengakibatkan bertambah panjangnya jalan dakwah serta akan mengakibatkan bertumpuknya beban serta pengorbanan, sebab Allah tidak akan memberi pertolongan dan pengukuhan pada mereka yang malas, lalai dan yang meninggalkan amal. Sebaliknya, Dia (Allah) hanya akan memberikan pertolongan kepada orang yang aktif, yang berjihad, yang teliti dalam beramal, dan membaguskan jihad. Sebagaimana Firman-Nya :
¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# $¯RÎ) Ÿw ßìÅÒçR tô_r& ô`tB z`|¡ômr& ¸xyJtã ÇÌÉÈ  
( ﺍﻠﻜﻬﻑ : ٣٠ )

Artinya : “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”
¨bÎ) ©!$# yìtB tûïÏ%©!$# (#qs)¨?$# tûïÏ%©!$#¨r Nèd šcqãZÅ¡øtC ÇÊËÑÈ   ( ﺍﻠﻨﺤﻞ : ۱٢۸ )
Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”  
z`ƒÏ%©!$#ur (#rßyg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏöks]s9 $uZn=ç7ß 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ                    ( ﺍﻠﻌﻨﻜﺒﻭﺖ : ٦٩ )
Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. "
b.  Israff
Dari sudut bahasa, Israff antara lain dapat bermakna : melakukan sesuatu tetapi tidak dalam rangka ketaatan dan bisa juga boros dan melampaui batas. Banyak faktor yang menyebabkan Israff, di antaranya adalah : latar belakang keluarga, keleluasaan rezeki yang diperoleh setelah kesempitan, berteman dengan pemboros, lalai terhadap bekal perjalanan, pengaruh istri dan anak, dan kurang mampu mengendalikan aneka tuntutan jiwa.
Sikap berlebih-lebihan dalam beragama adalah suatu penyakit yang membahayakan. Sikap ini dapat mendatangkan akibat-akibat buruk pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, bagi individu, umat dan masyarakat. Juga dalam hal akidah, pemikiran, hukum, syari’at serta perilaku dan tindakan Sesungguhnya sikap berlebih-lebihan dalam agama, dengan segala bentuk dan macamnya, adalah penyakit yang menjijikan dan kronis yang mengantarkan pelakunya dan orang yang komitmen terhadapnya, kepada kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat.
Adapun di antara bahaya-bahayanya, terhadap pribadi aktivis adalah hati menjadi keras, kebekuan berfikir, condong kepada kejahatan dan dosa, tidak mampu menghadapi ujian dan kesulitan dan lenyapnya sifat sosial dan rasa solidaritas. Sedangkan terhadap amal islami, Adapun pengaruh-pengaruh yang menimpa amal Islami antara lain akan menjadi kalah, atau paling tidak surut ke belakang. 
c.  Isti’jaal
Dari segi bahasa, kata Isti’jaal, I’jaal, ta’ajjul, semuanya mengandung pengertian sama, yaitu keinginan untuk menyegerakan atau mempercepat apa-apa yang dihajatkan atau orang yang menginginkan agar permintaannya terlaksana dengan cepat atau memerintahkan orang lain untuk bersegera dalam suatu masalah. Mengenai hal ini Allah swt sudah menjelaskan dalam firman-Nya :
 öqs9ur ã@Édfyèムª!$# Ĩ$¨Y=Ï9 §¤±9$# Oßgs9$yf÷èÏGó$# ÎŽöyø9$$Î/ zÓÅÓà)s9 öNÍköŽs9Î) öNßgè=y_r& ( âxoYsù z`ƒÏ%©!$# Ÿw šcqã_ötƒ $tRuä!$s)Ï9 Îû öNÍkÈ]»uŠøóèÛ šcqßgyJ÷ètƒ ÇÊÊÈ ( ﯿﻭﻨﺲ : ۱۱ ) 
Artinya : “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.”    

Sedangkan dari segi istilah, yang dimaksud Isti’jaal yakni keinginan untuk mewujudkan perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhitungkan akibat dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan, sistem dan sarana (Sayyid M Nuh, 2000:65). Sikap tergesa-gesa dan terburu-buru merupakan salah satu tabiat yang dimiliki oleh manusia seperti yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya :
……( tb%x.ur ß`»|¡RM}$# Zwqàftã ÇÊÊÈ          ( ﺍﻹﺴﺮﺍﺀ : ۱۱ )
... dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”
t,Î=äz ß`»|¡RM}$# ô`ÏB 9@yftã 4 …….. ÇÌÐÈ   ( ٲﻷﻨﺑﯿﺎﺀ : ٣٧ )
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.”
Kadangkala semangat yang berapi-api dari para penyampai dakwah serta keinginan yang mendesak untuk segera menyebarkan dakwah dan melihat kemenangannya, mendorong para penyampai dakwah untuk menarik sebagaian individu dan beberapa unsur penting masyarakat dengan cara mengacuhkan pada awal-awal langkah beberapa permasalahan dakwah yang mereka anggap bukan merupakan dasar dan pokok dari dakwah. Kemudian mereka berkompromi dengan manusia dalam beberapa urusan agar mereka tidak lari dari dakwah dan memusuhinya. Hal itu mendorong mereka juga untuk menggunakan sarana dan metode-metode yang tidak sesuai dengan standar-standar dakwah yang detail dan tidak pula dengan manhaj dakwah yang lurus. Mereka melakukan hal itu karena didorong oleh keinginan segera melihat kemenangan dakwah dan penyebarannya.
2.      Eksternal Da’i (lingkungan sekitar)
Yusuf al-Qaradhawi menulis dalam bukunya Aina al-Khalal bahwa kelemahan umat ini setidaknya disebabkan oleh tiga faktor penting yaitu pertama, melemahnya kesadaran umat ini untuk menjalankan syari’at agamanya. Kedua, umat ini sedang mengalami krisis identitas yang sangat akut. Ketiga, umat ini sedang berada dipersimpangan jalan bahkan lebih ekstrim lagi bahwa umat ini sudah kehilangan arah dan tujuannya.
Padahal Allah swt telah  telah mensifati umat (Islam) ini sebagai khairu ummah (ummat yang terbaik). Akan tetapi al-amru bil ma’ruf  dan an nahyu ’anil munkar sebagai prasyarat utama identitas tersebut sudah sejak lama ditinggalkan. Bahkan yang lebih menyayat lagi, kemungkaran seolah-olah menjadi konsumsi harian dan dianggap sebuah trend sedangkan bertingkah laku secara Islami akan dipandang remeh bahkan terkadang sering dipermasalahkan.
Allah swt., juga telah mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa umat ini ’ala qalbi rajul wahid, umat yang seharusnya satu visi dan misi Inna hadzihi ummatukum ummatan waahidah. Namun pada hari ini, umat yang besar itu terpecah-pecah dan selalu berselisih antar sesama saudaranya (muslim), sehingga perpecahan umat ini dimanfaatkan oleh kaum salibis dan zionois untuk menghancurkan potensi dan kekuatan umat ini.
Inilah yang menjadi penyebab kegagalan dakwah Islam di lingkungan sekitar para juru dakwah, baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan dakwah sekalipun telah terjadi dikotomi (pengkotak-kotakan) sehingga dakwah ini terkesan parsial.



D.    Akibat Kegagalan Dakwah
Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan pada kendala pertama. Sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.
"Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus sekalipun sedikit". (HR : Muttafaq alaih). Menyebabkan Pengorbanan Yang Sia-Sia.
Perilaku tergesa-gesa atau melakukan sesuatu aktivitas dengan tanpa perhitungan lazimnya sangat sulit mencapai keberhasilan, faedah, atau keuntungan. Kasus berikut ini merupakan sebuah contoh konkrit sekaligus ibrah (pelajaran) bagi kita semua atas fenomena isti'jaal.
Pada akhirnya tahun tiga puluhan, kehidupan hakah Islamiyah di Mesir sempat mencapai puncak masa kejayaannya. Ia telah dapat menembus ke segenap lapisan masyarakat. Ibarat sebuah kapal laut yang membelah lauatan yang tenang disertai semilir tiupan angin yang mengiringinya. Suara harakah telah menggema dan terdengar di setiap permasalahan, baik yang sifatnya nasional maupun internasional. Pada waktu itu ada seorang anggota harakah, yaitu Ahmad Rif'at, yang menolak sistem dan cara yang tengah ditempuh oleh harakah Islamiyah dan menyerukan sistem lainnya.
Awalnya, keadaan itu belum sempat menjadi perhatian. Setiap anggota harakah berhak mengkritik hal-hal yang dipandang perlu, maka terjadilah diskusi beberapa kelompok harakah yang kemudian menghasilkan kesimpulan yang paling benar dan jalan yanglebih lurus. Meskipun demikian, yang patut menjadi titik perhatian kita bahwa seruan tersebut mendapat sambutan positif dari para pemuda anggaota harakah Islamiyah. Kita tidak ingin membicarakan sebab-sebab yang melahirkan keadaan tersebut. Yang penting bagi kita adalah diadakannya pertemuan khusus untuk mengetahui kendala dan tuntutan yang tengah berkembang, yang meliputi tiga hal :
Pertama, pihak harakah Islamiyah dianggap telah "bemanis-manis" dengan pemerintah dan berjalan bersamanya, kendati jelas-jelas sistem politik yang dijalankan oleh pemerintah merupakan sistem politik "campuran" (sekuler). Kondisi itu harus diluruskan. Pihak harakah Islamiyah wajiba bersikap tegas dan kritis dalam menghadapi pemerintah secara benar sesuai dengan konteks al-Qur'an. "Dan barangsiap yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir".
Kedua, pihak harakah Islamiyah dianggap belum mampu menindak para wanita yang melakukan tabarruj (membuka aurat). Pihak harakah hanya dapat dapat memberikan nasihat, petuah, serta himbauan-himbauan lewat kata-kata. Diusulkan agar pihak harakah bisa mengirimkan para anggotanya ke jalan-jalan Kairo dengan membawa tinta. Setiap kali mereka mendapatkan seorang wanita yang membuka auratnya di hadapannya, mereka harus melemparkan tinta itu ke baju-baju mereka. Sebagai pelajaran bagi wanita itu.
Ketiga, sikap pihak harakah Islamiyah terhadap para mujahidin Palestina, dianggap hanya sebatas "pengakuan". Sikap semacam itu dipandang sebagai tindakan menyepelekan dalam mengatasi kemelut, enggan berjihad, dan menghindari dari medan perang. Seharusnya harakah Islamiyah segera meninggakan pekerjaan mereka masing-masing kemudian bergabung dengan barisan mujahidin di Palestina.
Jika hal-hal itu tidak dilakukannya, maka mereka termasuk orang-orang yang membelot dari gerakan, dan tidak berguna kerterlibatan mereka dalam harakah Islamiyah.



BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari rangkaian pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab-bab dapat diringkas dan sekaligus disimpulkan bahwa Sebab-sebab dakwah semeta-mata karna Allah SWT.Dalam melakukan aktivitas apapun sudah menjadi Sunnatullah pasti akan menemukan yang namanya keberhasilan atau kegagalan. Begitu pun dengan dakwah Islamiyah yang kita lakukan.  para pembawa misi dakwah tidak boleh mengukur keberhasilan dakwah dari segi buah-buah ini saja. Kewajiban mereka hanyalah bertolak dalam perahu dakwah di atas manhajnya yang jelas, murni dan detail (Sayyid Quthb, 2004:211). Kemudian menyerahkan kepada Allah untuk menilai hasil dan buahnya dari sikap istiqomahnya dalam dakwah itu.










Daftar Pustaka
Hadi, sofyan.  2011. Ilmu Dakwah dari Konsep Paradigma dan Metodologi. Css Pesona Surya Milenia
Aliyudin. Dasar-dasar Ilmu dakwah. 2007. Bandung: fakultas dakwah UINSGD Bandung
http://qolbi.wordpress.com/fiqh-dakwah/sebab-sebab-dakwah/ diakses pukul 0:39 wib pada tanggal 29 Oktober 2013



[1] Sofyan Hadi. 2011. Ilmu Dakwah.hal 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar